Posted by: indaharum | February 6, 2011

Dwilogi Padang Bulan

Awalnya bingung melihat buku ini. Gimana ga. Katanya dwilogi, tapi kok aku ga ngeliat buku satunya? Cuma sempat heran karena back covernya kok lumayan bagus juga…. Mau nanya malu…*jangan ditiru ya, kawan. kalo kamu emang ga tau, bertanyalah sesukamu, tapi kalo gaweannya nanya mulu…ya malu”in :D * Akhirnya pikiran jeniusku agak menangkap maksut buku ini. Yups. Ini dwilogi dalam satu buku. Buku satu di depan, buku kedua di belakang. Keren……

Aku tertarik dengan omongan seorang buyer di sampingku kepada sobatnya di sampingnya saat aku sedang melihat buku ini di pameran kemarin. Dia bilang gini, ‘Buku ini yang mengenalkanku akan Andrea Hirata. Jadi bukan karena Laskar Pelangi yang menghebohkan itu. Buku ini mirip Filosofi Kopinya Dee. Keren deh.’ Ups…agak gatel juga kupingku. Ah…wajarlah. Tiap orang boleh punya pendapat masing”. Cuma yang kutahu Dee dan Andrea Hirata ga bisa dibandingkan. Keduanya awesome. Keduanya luar biasa….

Buku ini seakan menghapus semua keraguanku akan buku terakhir tetralogi Laskar Pelangi, Maryamah Karpov. Bagiku, inilah Maryamah Karpov sebenarnya yang sudah dikenalkan Andrea sebelumnya. Seorang perempuan lugu dari pedalaman Belitong yang sangat miskin, hanya punya tekad untuk menaklukkan dunia. Dan lihatlah dia…dia mampu untuk belajar. Dia mampu menaklukkan semua mimpinya. Lihatlah apa yang dikatakannya, ‘Berikan aku sesuatu yang paling sulit, aku akan belajar.’ Luar biasa….

Masih dari sudut pandang Ikal, buku ini bercerita tentang pergulatan hidup seorang perempuan bernama Maryamah yang berusaha mendobrak tradisi di kampungnya. Dialah perempuan pertama yang bekerja sebagai penambang. Dialah perempuan pertama yang bisa bertanding catur di warung kopi yang selama ini hanya dibolehkan untuk kaum lelaki. Ya, kawan. Dia hanya mengenal tekad. Dan itu sudah cukup untuk segalanya….

Kopi, catur, dan kerasnya hidup diramu secara apik oleh Andrea Hirata dalam bukunya kali ini. Bahasanya ringan, seperti biasa. Menyentil, tapi juga membuat tawa. Ah, kawan, kau pasti akan suka sekali membacanya…

Buku ini juga bercerita tentang cinta. Selalu. Topik apakah yang tidak akan pernah habis dimakan usia selain cinta? Namun…di tangan Andrea, dalam perspektif Maryamah sang tokoh cerita, cinta bukanlah sesuatu yang pantas dikasihani. Karena mengasihani cinta hanya akan membuat hidup menjadi lebih menderita. Kenanglah cinta bukan dari sisi pahitnya, tapi dari sisi bagaimana dia bisa memberi hidup kita bahagia.

Tak lupa Andrea menyisipkan romansa perjalanan hidupnya saat menuntut ilmu di Sorbonne, jantung yurop sana seperti yang sudah dia ceritakan dalam Edensor. Tidak disisipkan secara menyedihkan dan hanya bumbu cerita, tapi justru menjadi awal sebuah cerita yang akan menjadi klimaks dari semua kisah dari buku ini sendiri. Luar biasa…..

Lihatlah apa yang dikatakan Salman Faridi tentang buku ini : melalui perempuan, penulis novel berkesimpulan bahwa belajar adalah sikap berani menantang segala ketidakmungkinan. Ilmu yang tak dikuasai akan menjelma di dalam diri manusia menjadi sebuah ketakutan. Belajar dengan keras hanya bisa dilakukan oleh seseorang yang bukan penakut.

So true…… Rite?

*Spesial bt yang sedang menuntut ilmu : love will bring u here*

Ummu Rasyid

Advertisement

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.