Posted by: indaharum | January 23, 2011

Memasak

Hujan sangat lebat di luar. Petir dengan suaranya yang sangat dahsyat menyambar” dari langit di atas sono. Agak ngeri. Aku masih menyibukkan diriku di dapur nyiapin makan siang untuk kami, aku dan suamiku, nikmati berdua. Hari ini suami ulang tahun, jadi aku menyiapkan makan siang agak sedikit istimewa.

‘Sedikit istimewa’ mugkin sebenarnya terlalu berlebihan untuk apa yang kusiapkan kali ini. Karena apa yang kusiapkan sesungguhnya hanya sesuatu masakan yang sangat sederhana, bukan menu istimewa seperti di resto yang biasa kami masuki atau masakan ala eropa yang memang kurang ramah di lidah kami, terutama lidahku. Yups…itu dikarenakan tidak lain dan tidak bukan karena aku bukanlah seorang koki yang handal. Dari semua pekerjaan sebagai istri, ibu, mahasiswa, pekerja, deelel deesbe, memasaklah pekerjaan yang paling tidak aku sukai.

Tapi aku sangat bahagia melihat rona bahagia dari wajah suami setelah kami makan siang bersama kali ini. Tidak ada pujian istimewa yang diucapkannya, tetapi ekspresi puasnya sudah sangat membahagiakanku. Aku sangat beruntung memiliki seorang suami yang sama sekali tidak menuntutku untuk menjadi pandai memasak, walau kutahu dia sangat menyukai makanan. Karena kutahu tidak sedikit lelaki yang menyelipkan doa untuk diberikan istri yang pandai memasak, yang bisa memanjakan lidah dan tubuhnya dengan masakan yang luar biasa. Tapi tidak demikian dengan suamiku. Sejak awal sudah kuberi tahu bahwa aku tidak bisa memasak dan tidak pula menyukai aktivitas memasak. Aku hanya bisa memasak beberapa menu sangat sederhana : beberapa jenis sayur, lauk, nasgor. No more, no less :)

Untuk memanjakan lidahnya, aku khusus mempekerjakan seorang koki. Masakannya sangat enak. Waktuku lebih kufokuskan untuk bekerja, mengurusi pasien dan ugd serta anak”. Aku selalu mengontrol higiene masakan yang masuk ke perut kami sekeluarga. Dan tak lupa, aku selalu menekankan kepada keluargaku bahwa semua makanan yang masuk ke mulut kami adalah karunia Allah semata. Aku mengharapkan kebaikan dari semuanya, sehingga sesederhana apa pun makanan kami, insya Allah itu berkah dari Allah untuk kami, bukan dilihat dari apa makanan yang kami makan.

Bagiku, ketidakmahiranku memasak bukanlah sebuah kekurangan dan aku tidak menyesal tidak pernah memilikinya. Aku sebenarnya bisa juga memasak yang agak sedikit lebih rumit, rendang, gule, dll, tetapi sekali lagi, aku tidak suka memasak. Look at the difference between the two :p

With love,
Ummu Rasyid.

Advertisement

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.