Ada agenda baru di skul kk hari kemarin. Mengunjungi toko buku. Agak surprise juga aku. Ini sebuah kemajuan yang sangat sangat kusyukuri. Dan seperti biasa, kedua jagoanku selalu sangat antusias setiap kali ada kunjungan ke toko buku.
So, diiringi panas yang sangat menyengat (lebih dari 37 celcius euy, nyaris 40. great), aku pun menjemput sulungku dengan membawa adik turut serta. Maksudku setelah ‘touring’ bersama skulnya, sudah saatnya ‘touring’ bersama maknya dan adiknya.
Aku tahu ada kerja sama mutual dalam kunjungan kali ini. TB Fajar Agung yang jadi sasaran kali ini barusan merenovasi bangunannya dan kini dia tampil sangat elegan dengan eksterior dan interior barunya. Sekarang suasananya nyaman sekali. Ada bagian baru di lantai atas untuk menampung koleksi buku” di toko buku tersebut. Jadi sekarang ruangannya terasa sangat lapang dan nyaman.
Hanya satu yang sangat aku sesalkan. Koleksi bukunya sangat sedikit untuk ukuran toko buku sebesar itu. Sangat sangat sedikit. Aku bahkan tidak menjumpai buku” yang sangat kukenal baik di sana. Fiksi, agama, kesehatan, komputer, deelel kususuri satu demi satu. Sayang. Raknya masih banyak yang melompong.
Terus terang sebenarnya aku heran dengan toko buku di Bandar Lampung ini. Bahkan di gramedia, koleksi buku yang ada pun sangat tidak lengkap. Aku sudah sangat kecewa sejak pertama kali menginjakkan kaki di bumi ruwa jurai ini. Saat pertama kali hendak diboyong hubby ke sini, aku kebingungan buku apa yang hendak kubawa. Apalagi buku” kedokteran yang gendut” itu. Akhirnya aku memutuskan meninggalkan bukuku dengan harapan aku bisa membelinya di lampung. Tapi ternyata perkiraanku meleset karena tidak satu pun buku” itu kutemukan di sini (sudah kususuri toko” buku di kota ini). Dalam pajangan bertuliskan kesehatan, aku hanya menjumpai buku” kesehatan untuk umum dan sangat” sedikit sekali yang khusus untuk bidang medis. Aku heran dan bertanya” lalu dari mana mahasiswa kedokteran sini memperoleh buku”nya? (ada satu sekolah kedokteran swasta di sini). Saat Unila membuka program studi kedokteran, kupikir aku akan menjumpai sejumlah peningkatan yang cukup berarti untuk buku” medis. Tapi ternyata tidak. Semuanya masih tetap sama sperti saat enam tahun lalu aku mulai menginjakkan kaki di sini.
Sempat kutanyakan alasan kenapa sedikit sekali koleksi buku di TB gramedia itu. Saat itu aku mendapat jawaban bahwa penerbit memberikan penawaran yang cukup berat kepada toko buku untuk memasarkan bukunya. Penerbit buku” besar kedokteran seperti EGC apalagi. Mereka menuntut jumlah pembayaran yang cukup tinggi di muka yang tidak bisa dipenuhi oleh manajemen. Ah, aku tahu ke mana arah pembicaraanku kala itu. Yah…semua kembali kepada minat baca dan minat beli masyarakat Bandar Lampung. Andai minat” itu ada dan bahkan cukup tinggi di sini, aku yakin kok seberat apa pun persyaratan penerbit pasti akan dikabulkan manajemen.
Aku akui, itulah yang terasa kurang sekali di sini. Masyarakat Bandar Lampung kurang menyukai buku dan jauh lebih menyukai hal” yang berbau ‘penampilan’ fisik. Lihatlah toko” baju, tas dan sepatu yang selalu dan selalu jauh lebih ramai di sini. Lihatlah penampilan para ibu” yang selalu bak pejabat mau pergi kondangan sampai abg yang selalu menampilkan tren terbaru.
Well…tidak masalah sebenarnya andai semua itu ditimpali dengan asupan nutrisi otak yang cukup memadai. Masalahnya itulah yang kurang di sini. Tidak ada yang cukup peduli apa yang kau ketahui selama kau berpenampilan cukup meyakinkan. Mengenaskan.
Tiba” aku begitu merindukan jogja. Toko” bukunya selalu membuatku ingin dan ingin terus mendatanginya. Membuatku mabuk kepayang sampai tidak ingat entah sudah berapa rupiah yang sudah kucabut dari dompet yang kupegang. Toko bukunya lengkap menyajikan apa yang kumau. Sedemikian lengkapnya sampai semua koleksi bukunya harus berjejalan dalam rak” yang dipampang, bahkan tidak sedikit yang harus rela ditumpuk begitu saja karena tidak kebagian tempat. Belum lagi pelayanan free penyampulannya yang sangat” membantu pelanggan. Ah….kapan aku bisamenemukan itu di sini?
Sepenuh cinta,
Ummu Rasyid






jd inget aku ma suami seneng bgt bawa anak2 ke gramed di matraman.mengenalkan mereka ke buku2, sekalian baca buku gratis, buku bocah kan larang2.hiks. apalagi di situ tempatnya nyaman, kalo pingin baca yg masih plastikan aja boleh, tinggal bilang yg jaga, trs dibukain.
hehe…sabar wae mba…suatu saat tiba waktunya. mungkin mba In ama m Topix yg jd buka toko bukunya someday.aku di wonosari sini juga mesti turun gunung ‘hanya’ untuk beli buku. mayan lah, ada alasan turun gnung jadinya.xixixi
ke jakarta aja mba,rak ora pati adoh toh seko BL
By: Any safar on March 2, 2010
at 9:52 pm
ha…maunya kl ke jkt pas ada pameran buku gitu deh. tp ra ono sing ngeterke saiki…
By: indaharum on March 3, 2010
at 5:22 am
kalo boleh jujur sebenarnya males juga aku tinggal di BL… “akses susah” dalam artian ketika kita butuh buku – buku baru dan buku – buku tua susah sekali mencarinya dan di bandar lampung belum banyak toko buku dan koleksinya pun kurang lengkap…
soal antusiasme warga BL untuk membaca memang kurang di banding dengan penampilan
By: widhiyaartanto on August 16, 2010
at 2:14 pm
cant agree more. itulah fenomenanya di sini ya, mas…
By: indaharum on August 22, 2010
at 12:56 pm