Tiga hari ini badanku rasanya ga enak banget. Berawal dari hari rabu di kantor usai sarapan ketika tiba” perutku berasa tidak karuan dan kemudian badanku berangsur menjadi dingin. Aku pun meminta ijin untuk pulang. Dua hari keluhanku tidak berkurang bahkan kolik di perutku terasa mengganggu sekali. Sejak semalam bahkan ditambah dengan diare. Inna lillaahi…
Awalnya aku mengira hanya masuk angin biasa (well, terus terang aku belum menemukan istilah medis yang tepat untuk sindroma masuk angin ini ^^). So, aku pun meminta dikerokin sama ibu mertua. Bukannya sembuh, kali ini aku malah merasa tambah tidak karuan. Badanku jadi sakit semua. Padahal biasanya sembuh lo dikerokin dengan penuh cinta oleh ibu mertua ini…
Walhasil dua hari ini aku lebih banyak berbaring di tempat tidur ditemani laptop dan anak”. Aku bahkan tidak sanggup full ngajarin mereka belajar karena badanku rasanya lemas sekali dan jantungku palpitasi. Alhamdulillah kk mau membacakan cerita untuk adiknya sebelum tidur, sehingga kegiatan mendongeng masih tetap berjalan.
Dalam kondisi seperti ini aku sempatkan diri merenung. Mungkin ini saatnya aku memperbanyak istighfarku. Bukankah Allah sudah berjanji untuk mengampuni dosa” kita saat kita sedang sakit? Aku jadi ingat selalu wejangan yang kuberikan ke pasien agar bersabar dalam sakit mereka. Kebanyakan pasien selalu mengeluh dan mengaduh ketika mereka ditimpa sakit.
Indah sekali andai tiap sakit, apa yang keluar dari mulut kita adalah dzikir kepadaNya. Ah…kolik ini sungguh nikmat sekali rasanya, kawan. Aku harus menahan nafasku ketika dia datang dan menghembuskannya bersama kalimat Allah dan istighfar.
Aku jadi ingat macam” reaksi pasien”ku saat menahan rasa sakit. Paling banyak adalah menjerit. Wajar memang. Saat aku ingatkan untuk istighfar, kebanyakan hanya mampu menuruti sekali dua kali. Selebihnya kembali menjerit, mengaduh dan mengumpat. Sering yang kudengar ‘Ah, dokter kan tidak merasakan sakitnya…’ Aku hanya tersenyum. Dan tidak jera untuk menasihati mereka.
Aku pernah merasakan sakit yang lebih hebat mungkin karena aku pernah 3x hamil dan dua kehamilanku terpaksa diterminasi di ruang operasi. Kontraksi saat kehamilan bahkan harus terus kurasakan sejak kehamilanku berumur 5 bulan. Hehehe…yang pernah hamil pasti tahu gimana rasa sakitnya kontraksi ini. Belum lagi efek operasi cesar yang harus kutanggung. Siapa pun pasti tahu bahwa operasi membuat rasa sakit yang kau rasakan pasca melahirkan menjadi lebih berlipat rasanya. Mantabs…
Ah… aku selalu berusaha untuk tidak mengaduh, kawan. Kalau aku bisa memberi wejangan kepada para pasienku, maka aku pun harus bisa melaksanakannya untuk diriku sendiri. Kala rasa sakitku itu datang, kuambil nafas panjang dan kuhembuskan pelan dengan diakhiri kalimat ‘Allah’ atau istighfar. Tidak berat kok sebenarnya. Justru ketika kita mengaduh dan menjerit, otot” kita akan tambah tegang dan rasa sakit yang kita rasakan akan semakin menjadi. Aku ingat saat kemarin dikerokin ibu mertua. Sebenarnya rasanya sakit sekali. Luar biasa. Aku hanya bisa berkata ‘Allah’ sambil menahan sakit itu. Ketika akhirnya aku sadar bahwa dengan begitu aku malah justru menambah rasa sakit yang kurasakan, aku pun berganti strategi. Aku menghadirkan wajah orang yang sangat kucintai dan kurindukan dalam benakku dan memohon kepada Allah agar kehadirannya mampu menahan rasa sakitku. Ajaib. Memikirkannya dan mengenangnya membuat rasa sakit itu sama sekali tidak kurasakan. Subhanallah…
Ah, tapi bagaimana pun aku lebih suka punya badan yang sehat sehingga aku bisa berkarya dan beraktivitas. Saat sakit seperti inilah baru terasa sekali nikmatnya sehat. Dan seperti yang selalu kukatakan kepada para pasienku, kesembuhan hanya dari Allah, bukan dari aku sebagai seorang dokter atau pun obat yang kuberikan. Karena dokter dan obat hanyalah perantara saja.
Maka sepenuh hati aku pun berdoa, ‘Isyfinii, ya Rabbi…’
Catatan: kawan, aku mohon maaf kalau kalimat”ku dalam note kali ini agak tidak nyambung. Maklum seringnya sambil menahan kolik.






Appreciations